A birthday wish

9 Mei 2016 § 1 Komentar

Halo, Sharifah Shakinah🙂

Ini surat selamat ulang tahun ke-26 buat kamu yaa, sesuai janji. Udah sih, cuma mau bilang gitu doang, udah ga ada utang lagi yah sekarang :p *menghindar dari cubitan*

Hahahahaha, engga gitu juga ding :))

Sebenarnya sudah agak lama aku kepikiran ingin nulis sesuatu untuk kamu. Tentang hal-hal yg selalu ingin aku bilang ke kamu, tapi pada akhirnya berhenti di sebatas rasa-rasa abstrak di kepala. Kadang-kadang aku nggak sefasih itu menggambarkan perasaan lewat bahasa lisan, so here it goes, my heartfelt thank you for this past 9 months of being with you, my futile attempt to convey how much you mean to me.

First of all, I’ve said this before, but I’ll say it again. Terima kasih banyak ya Sha, buat suatu hari di bulan Agustus itu, ketika kita sekali lagi mulai saling menyapa. Ga pernah aku se-degdegan itu dibanding ketika menunggu balasan whatsapp pertama kamu.Terima kasih banyak untuk percaya, that after all those silent months, we still deserve a second chance of trying to be together. Siapa yang sangka coba, ujungnya bisa jadi kaya gini? Honestly :))

Sejak kita ketemu, banyak sekali momen-momen bahagia bersama kamu that I’ll cherish with all my heart. Momen yang selalu bisa menyalakan api unggun di dalam dada aku, setiap aku merasa sedih atau kecewa. Dari seru-seruan seharian di IIBF, sampai keabsurdan jalan-kaki-keliling-GBK-supaya-lapar-lagi, dari latihan wawancara di taman Surapati, sampai kekenyangan makan kambing kairo di Bandung, I can think of hundreds and hundreds of ways, how much better, happier, and more loved my life has become since I’ve been with you. And now, reminiscing through all of that, hari ini aku berdoa, semoga untuk semua kebahagiaan dan ketidakbahagiaan yang akan datang pun, selalu akan ada kamu di samping aku, the best teammate I can ever find.

Terima kasih sudah menerima segala keanehan dan keabsurdan tingkah laku aku. Sudah menanggapi segala obrolan ga penting aku. Terima kasih untuk semua obrolan pasca berantem kita, semua saran, semua kritik, semua perhatian, semua janji dan niat untuk melangkah ke depan dengan lebih baik lagi, sambil tetap tidak melepaskan genggaman. Ga pernah dalam hidupku aku merasa disayang seperti ini, seperti sama kamu🙂

I’ve never tell you this enough Sha, betapa kagumnya aku sama kedewasaan kamu, tanggung jawab kamu pada tugas dan pekerjaan, rasa sayang dan hormat kamu sama Mama. Keluwesan kamu bertutur sama Bapak dan Ibu aku. Gimana kamu mencerahkan suasana  ketika aku kesal sama mobil sebelah. Gimana kita berpegangan tangan di tengah kemacetan. So many little things to add to my ever-growing list of what I love about you🙂

Selamat ulang tahun, Sharifah Shakinah sayang. Semoga semakin dewasa dari hari ke hari ya🙂

Berpuluh tahun dari hari ini, I hope I can say the same words, to your wrinkled face. Suatu hari nanti.

Fahmi Rahmadani

Memories of The Survivors

3 Mei 2013 § 1 Komentar

Di tahun 2011, saya pernah mendengarkan podcast tentang bagaimana kenangan dibuat di dalam otak manusia. Sebelumnya, saya membayangkan otak manusia sebagai lorong dengan ruangan-ruangan besar yang dipenuhi deretan lemari arsip berisi ratusan map. Saya membayangkan bahwa mata dan kuping adalah perekam video yang mengalirkan imaji-imaji tanpa henti dan menyimpannya berturutan dalam lemari arsip. Bahwa rasa, bau, dan sentuhan juga terekam oleh indera dan tersimpan di tempat yang sama. Bahwa ‘lupa’ hanyalah lupa di lemari mana kita menaruh suatu map. Ketika map itu akhirnya kita temukan maka di sanalah dia, ingatan kita, menunggu. Rekaman yang utuh, meski mungkin sedikit berdebu.

Tapi ternyata bukan begitu. Dibanding perekam video, kenangan lebih mirip hasil karya seorang pelukis. Kamu menangkap suatu adegan, menambahkan emosi, asumsi, bias, sudut pandang, suasana hati, preseden, dan bermacam prasangka subjektif lainnya, lalu melukiskan hasilnya dalam ingatan.

“What you end up remembering isn’t always the same as what you have witnessed.”

Ketidakakuratan ingatan ini yang menjadi tema utama buku The Sense of An Ending. Tokoh utama buku ini, Tony Webster, adalah bapak-bapak pensiunan umur 70an. Di separuh awal buku, Tony bercerita panjang lebar tentang masa remaja dan masa mudanya, bagaimana ia mempunyai tiga teman akrab ketika muda, tentang pacarnya semasa kuliah, Veronica, dan tentang kenangan singkat berkunjung ke rumah keluarga Veronica di suatu musim panas.

Separuh buku kedua dimulai dengan kiriman surat dari seorang pengacara tentang surat wasiat yang ditujukan untuknya. Dari surat ini, pertemuan-pertemuan yang menyusul kemudian, dan usahanya untuk mencoba mengingat-ingat kembali masa lalunya, Tony mulai mempertanyakan kembali kebenaran dari kenangan yang di paruh awal buku ia ceritakan.

‘What is history? Any thoughts, Webster?’

‘History is the lies of the victors,’ I replied, a little too quickly.

‘Yes, I was rather afraid you’d say that. Well, as long as you remember that it is also the self-delusions of the defeated. …

Mengikuti perjalanan Tony menemukan kejadian sebenarnya dari kenangan-kenangannya, kita terpaksa mengakui betapa tidak bisa dipercayanya ingatan manusia. Ambil satu cerita di masa lalumu, lalu cobalah ingat-ingat kembali setiap detilnya. Masihkah kamu yakin, yang terjadi benar-benar seperti yang kamu ingat?

“How often do we tell our own life story? How often do we adjust, embellish, make sly cuts? And the longer life goes on, the fewer are those around to challenge our account, to remind us that our life is not our life, merely the story we have told about our life. Told to others, but—mainly—to ourselves.”

Buku ini singkat, hanya sekitar 150an halaman, tetapi mungkin paragraf-paragraf dalam buku ini akan terus mengganjal di pikiran, lama setelah kita selesai membacanya.

“History isn’t the lies of the victors, as I once glibly assured Old Joe Hunt; I know that now. It’s more the memories of the survivors, most of whom are neither victorious or defeated.”

Insecurities

6 Oktober 2012 § Tinggalkan komentar

In some part of your life, there are times when you meet someone who at first seems living a perfect life. Everything seems to be going great for them. You admire them. You adore them. Sometimes, you get a little intimidated by them.

And then you get you get to know them, and you find out that they’re human after all. A person with their own doubts, fears, anxieties. A person with their own insecurities, often deeper than you’ve ever thought.

Di tengah mesin-mesin penghantar gelombang radio

15 Mei 2012 § 2 Komentar

Sejak kapan, kita menampik sinar matahari, dan merasa nyaman dengan meringkuk di balik kelembaban bayang-bayang tembok berwarna warni?

Sejak kapan, kita mengelilingi diri dengan mesin-mesin yang sibuk berbunyi, yang berdesing dengan penuh energi, bersiul-siul dengan daya hidup melebihi para tuan yang mereka layani.

Sejak kapan, kaki kanan kita menjadi untuk menekan pedal gas, kaki kiri untuk pedal kopling dan rem, dan fungsi utama sendi leher adalah untuk menengok ke belakang ketika parkir. Kita lalu lupa untuk melangkah, berlari, mendaki, menjejak.

Sejak kapan manusia menjadi makhluk yang hidup di masa depan? Pikirannya penuh antisipasi dan kecemasan. Tatapannya menerawang tapi remang, dan mereka menghadapi hari dengan menghitung setiap untung dan rugi.

 

As long as we want it

16 Januari 2012 § Tinggalkan komentar

You may have heard about people gifted with ‘photographic memory’. It’s an ability to recall everything you’d seen, as clearly and accurately as if you are actually seeing it in front of you. It’s like seeing mental photographs, or movie, from your own memories.

The first time I heard such gift, I was blown with awe and jealousy. I started imagining the possibilities. People with photographic memory, when traveling, they don’t have to take lots of picture to remember. They can pull it all from memories. Every scenery, every landscapes, buildings, all the expressions on the face of their friends, every moments, all the experiences. And when they watch a good movie, the only need to watch it ONCE. Then replay whenever they want. The same goes for music concerts, plays, sport matches..

And then I realized that when it comes to studying, they just have to read the textbooks once, look briefly at every pages, and recall them one-by-one during exams. I realized with jealousy that they can study everything.

That they can be anything at all, as long as they want it.

But then I thought about it, and realized that at least for that one last point, it actually applies to all of us as well. That is, as long as we want it.

Gila ya

16 Desember 2011 § Tinggalkan komentar

Gila ya.

Gimana semua hal-hal yang terjadi itu ternyata ada tujuannya sendiri-sendiri. Cuma kita aja yang kadang belum tau. Kadang pertama kali, kita cuma ngeliat kulit luarnya aja. Terus kesel-kesel sendiri, karena yang apa kita liat itu nggak sebagus atau semudah yang awalnya kita harapkan. Tapi pada akhirnya kita malah malu, heran sendiri ketika akhirnya kita diperlihatkan tujuan mereka satu per satu. Yang ternyata adalah suatu konspirasi besar alam semesta dengan akhir baik yang tak terduga-duga. Gilak.

yang di depan dan di belakang

1 Oktober 2011 § Tinggalkan komentar

hari kamis, dua hari yang lalu, saya selesai menjalani sidang tugas akhir. belum resmi jadi sarjana memang, masih ada revisi dan beberapa hal-hal administratif lain sebelum akhirnya saya akan diwisuda.

pada saat building up momentum menuju waktu sidang, pikiran saya yang tegang berkali-kali dilintasi pemikiran yang sama, yaitu betapa cepatnya waktu berlalu dari pertama masuk itb. obrolan dengan teman-teman sesama peserta sidang juga memberikan jawaban yang sama. hampir semuanya merasa waktu berjalan terlalu cepat. gak kerasa euy udah sidang aja ya, kata mereka. maka saya coba mengingat-ingat. dan ternyata kalau dirunut dan diingat betul-betul, eh tidak secepat yang kita bilang ya.

saya ingat saat kelulusan sma, rasanya berat, ingin terus melanjutkan ke kelas empat saja bersama seluruh teman seangkatan. ingat pertama kali baca pengumuman penerimaan SPMB lewat internet. waktu itu, saya yang kena euforia menelepon bapak saya yang sedang di luar kota. ternyata bapak udah punya nomor peserta saya dan udah mengecek pengumuman sendiri. gak tahan deg-degan kayaknya, haha. saya ingat antri daftar ulang di sabuga, lalu ambil ksm dan pertama kali baca nim sendiri. saya ingat waktu sidang terbuka di sabuga, yang disambung PMB sampai sore. saya ingat masa-masa ospek jurusan, masa bina cinta (mbc) hme, dengan tugas berjibun yang bikin saya dikira ibu jadi anak dugem karena pulang malam terus. yakali bu. minum sekoteng jahe aja saya ga abis. saya ingat waktu agak kesal karena di hari ulang tahun malah harus seharian di kampus ngerjain tugas mbc.

saya ingat pertama kenal teman2 sekelas kalkulus waktu TPB, teman2 labtek tetangga, teman2 sahabat telekomunikasi. saya ingat diajak mamed pertama kali ikut latian parkour, yang bikin ingat diklat keamanan dan ingat pelantikan. saya inget pers mahasiswa. saya ingat milih jurusan telekomunikasi, ingat ambil kuliah kesehatan lingkungan dan pilih2 kelas supaya bareng mahasiswi TL, tetapi gagal. saya ingat pilih2 kelas kuliah agama bareng temen2 dan nyari kelas yang banyak anak TI, TL, atau planologinya. haha. saya ingat pengmas hme, saya ingat diklat palapa, dan saya ingat jamming nasional parkour indonesia.

ternyata saya ingat banyak hal. ternyata masa empat tahun ini sebenarnya panjang sekali, dan isinya sangat bermacam-macam. saya ingat hal-hal menyenangkan, hal-hal memalukan, yang bikin kesal, dan bikin senang, yang bikin kecewa, dan yang bikin bangga. dan saya paham, empat tahun ini sudah membentuk saya dalam banyak hal. empat tahun yang luar biasa, yang lebih intens, lebih full action dibandingkan tujuh belas tahun lain dalam hidup saya. sekarang empat tahun itu sudah selesai. masa-masa trial and error, kata dosen saya, sudah selesai. sekarang saatnya memasuki dunia nyata, di mana untuk setiap perbuatan ada konsekuensi yang lebih mbois dan menyeramkan. saya ingin bilang dengan mantap ‘saya siap!’, tapi nyatanya empat tahun lalu pun saya merasa tidak. dan hari ini saya masih baik-baik saja. jadi kayaknya saya biarkan saja perasaan saya apa adanya, lalu saya bilang saja, ‘real world, be nice to me yah!’

fahmi rahmadani, (calon) S.T.