Lompat ke isi

Tentang Hukuman Mati

4 Mei 2011

Judulnya serem ya? Ahaha, maap2.

Barusan, di MetroTV, ada liputan wawancara dengan sutradara film dokumenter “Prison and Paradise”. Dari yang gw tangkap, film ini menceritakan tentang pelaku bom Bali beserta keluarganya, dari sudut pandang humanis.

Gw tidak akan bercerita tentang film itu, karena gw juga belum pernah nonton. Yang ingin gw ceritakan adalah satu bagian dalam wawancara tersebut yang menampilkan potongan-potongan adegan film tersebut. Dalam satu scene, tertampil foto hitam putih pelaku bom Bali di balik jeruji dengan caption “Imam Samudera, Amrozi, dan Ali Ghufron dieksekusi pada dini hari 9 November 2008 di LP Nusa Kambangan. Amrozi dan Ali Ghufron dimakamkan di Lamongan, Jawa Timur. Imam Samudera dimakamkan di Serang, Banten”.

Gw terhenyak. Entah kenapa caption itu terasa lebih real daripada berita-berita yang gw baca di koran. Dan gw jadi membayangkan apa rasanya ya tahu akan dihukum mati. Apa rasanya tiap pagi bangun sambil sadar hidup kita sedang dihitung mundur. Dan keluarganya, apa rasanya bangun tiap pagi dan menghitung mundur sampai tanggal eksekusi ayah, suami, atau anak kita, di depan regu tembak?

Gw percaya adanya afterlife, tapi bukankah kehidupan di dunia, se-fana apapun, tetap berharga ya? Iya, mereka memang melakukan pemboman yang menelan banyak korban. Gw mengutuk itu. Tapi apa berarti kehidupan mereka lantas harus diakhiri? Apa mereka tidak dapat lagi memulai hidup di masyarakat? Apa sama sekali tidak ada lagi manfaat hidupnya mereka bagi umat manusia? Dan kalau memang iya, apa kita benar-benar berhak mencabut hak hidup yang diberikan Tuhan pada mereka? Who are us to judge?

Saat ini yang gw tahu hukuman mati masih diberlakukan pada kasus pembunuhan dan peredaran narkoba. Dan gw sempat mendengar -dan mendukung- usulan-usulano untuk memberlakukan hukuman mati bagi koruptor. Oke, pembunuh mungkin berbahaya, pengedar narkoba mungkin merusak bangsa, dan koruptor mungkin jenis manusia terburuk yang pernah ada. Again, who are us to judge? Manusia, sebesar apapun kekuasaannya, sesuci apapun akhlaknya, sebanyak apapun jumlahnya, tidak berhak memutuskan nyawa seseorang. Pembunuhan tetaplah pembunuhan, baik atas nama agama, negara, hukum, atau keadilan.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.