Lompat ke isi

Jamming Nasional Parkour Indonesia 2010 (Part 2)

8 Maret 2011

Ini adalah tulisan kedua dari dua tulisan. Baca part 1 di sini.

Tulisan ini berisi day per day Jamnas.
Tulisannya lumayan panjang dan semuanya dari sudut pandang saya, jadi you’ve been warned ;)

tl;dr: Jamnas 2010 was awesome, Mbois!!

1. Hari Pertama, Methode Naturalle di Jalur Daki Jayagiri.

Pada saat pendakian, peserta dibagi menjadi kelompok kecil berisi sepuluh orang. Perjalanan melalui jalur daki diselingi oleh challenges kecil seperti quadrupedie movement, balance, dan carry the man. Selesai melakukan challenges, semua peserta sudah belepotan lumpur sampai siku, tak terkecuali Thomas Couetdic yang begitu gembira menemukan hutan yang tidak dingin seperti di Inggris :)


Di ujung jalur daki terletak highlight pertama yaitu jembatan pipa air. Challenge di spot ini adalah melakukan shimmy (bergantung pada tangan dan melakukan gerakan menggeser) sampai seberang, dan diawasi oleh Stephane Vigroux sendiri. Tantangan dari SV adalah, ‘anggap bagian bawah jembatan pipa sebagai jurang. Dilarang melepas pegangan tangan dan menjatuhkan diri, karena artinya kalian ‘mati’. Kalau tidak kuat, maka memanjatlah’. SV mengajari kami untuk mengukur kemampuan diri sendiri. Selalu sisakan cukup tenaga untuk memanjat ke atas jembatan. Bayangkan diri kalian di kondisi darurat yang sebenarnya. Tepi jembatan yang tajam ditambah hujan yang mulai turun menambah kesulitan tantangan ini.

Selepas jembatan, peserta melanjutkan perjalanan berbekal tangan yang kini penuh bilur, letih, dan lecet, tapi wajah puas dan gembira. Keluar dari hutan, peserta tiba di awal jalur running downhill. Seharusnya, semua peserta akan mencoba berlari selama 10 menit nonstop menuruni bukit mengikuti jalur sepeda downhill yang berliku-liku. Sayangnya, beberapa kelompok tiba setelah hari gelap sehingga tidak semua mencobanya.

Perjalanan turun ke tempat truk menunggu dilalui di bawah hujan yang kini turun dengan deras. Ajaibnya, semua berjalan dengan bersemangat sambil mengobrol, tanpa ada yang mengeluh. Dasar anak Parkour, hujan-hujanan malah dianggap sebagai sarana menempa daya tahan tubuh. Beberapa orang bahkan menggeleng-geleng sambil tertawa, “Ada ya, orang yang disuruh merangkak-rangkak di lumpur, jalan kaki hujan-hujanan, bukannya kesel malah ketawa-ketawa?” :)

Setelah mandi, sesi malam hari diisi dengan sharing dari masing-masing perwakilan komunitas Parkour setiap kota. Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Pasuruan, Balikpapan, Bali, Lombok, Sukabumi, dan kota-kota lain yang terlalu banyak untuk disebutkan. Masing-masing bercerita tentang perkembangan Parkour di kotanya, ditimpali saran-saran, dorongan semangat, dan lawakan segar dari teman-teman di kota lain. Semua peserta pergi tidur dengan perut kenyang, badan bersih, dan senyum lebar.

2. Hari Kedua, Workshop di Kampus ITB.

Seperti hari pertama, peserta akan dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Masing-masing akan menuju spot berbeda, dengan enam instruktur berbeda, termasuk Stephane dan Thomas. Sebelum workshop dimulai, seperti biasa SV dan TC memimpin pemanasan ‘ringan’ yang ternyata cukup menguras keringat. Sebenarnya sebagian besar hanya kombinasi squat dan quadrupedie movement, tapi SV dan TC menekankan repetisi dan eksekusi setiap gerakan dengan benar. ‘Akan beda,’ SV menjelaskan, ‘melakukan gerakan-gerakan ini dengan banyak tapi asal-asalan, dibanding melakukannya sedikit tapi dengan sempurna. Selalu lakukan apapun dengan sempurna’.

Peserta pun dibagi ke dalam enam kelompok. Setengah hari dihabiskan dengan masing-masing instruktur, berkeliling dan mencoba berbagai spot latihan di ITB.

Siang hari, setelah makan siang, mendadak turunlah hujan. Rencana awal di mana peserta akan dirotasi untuk mencoba tempat lain di ITB diurungkan. Peserta berteduh di GSG sambil menonton pertandingan hockey yang kebetulan sedang berlangsung. Sebagian mulai tidur-tiduran dan mengobrol. Sementara itu, beberapa panitia mengobrol dan merundingkan kemungkinan-kemungkinan.

Pukul setengah tiga, hujan masih turun walau tak lagi lebat. SV dan TC memberi usulan menarik, ‘Parkour Jogging’ yang sifatnya optional. Segera, sebagian peserta yang memilih ikut berlari di bawah hujan, terbagi ke dalam dua regu masing-masing dipimpin SV dan TC. Mereka menentukan jalur yang akan dilalui dan peserta mengikutinya dengan cara mereka masing-masing.

Parkour Jogging ternyata seru sekali! Sama seperti kemarin, hujan hari ini benar-benar menjadi blessing in disguise. Thomas, yang memimpin kelompok saya, menunjukkan beberapa prinsip dan pola pikirnya dalam berlatih Parkour. Salah satu yang paling membekas dalam ingatan saya adalah prinsipnya tentang melakukan segala sesuatu dengan benar, disiplin, dan sepenuh hati. Do or not do, there’s no try.

It’s not a punishment

Ceritanya begini. Salah satu latihan fisik yang paling sering dilakukan di Parkour adalah shimmy (gerakan menggeser). Variasinya banyak. Yang hari itu Thomas pimpin adalah shimmy dengan telapak tangan di tanah dan telapak kaki di bangku beton setinggi kira-kira dua puluh senti. Kami bergerak menggeser dalam posisi seperti pushup itu mengelilingi tempat duduk beton. Rule yang diberikan: mulai bersama-sama, selesai bersama-sama. Dari awal sampai semua selesai lutut tidak boleh mengenai tanah. Jika salah satu dari kami menaruh lututnya ke tanah, semua orang harus mengulang kembali dari awal. Istirahat boleh dilakukan, asal posisi tetap dijaga dan lutut tidak mengenai tanah.

Kami berbaris melakukan gerakan shimmy di bawah hujan. Setiap beberapa meter kami bergantian beristirahat. Meski sudah diberi peraturan, beberapa orang sempat menaruh lututnya di bawah. Setelah semua orang dengan tangan pegal mencapai ujung bangku beton, Thomas berkata (sambil masih dalam posisi pushup), “Tadi kita coba A to B, sekarang mari kita coba B to A. Tadi masih ada beberapa orang yang turun, kali ini saya ingin tidak ada yang melakukannya”. Saat itu seseorang yang sudah benar-benar kelelahan meminta izin untuk beristirahat, dan Thomas mempersilakan. Tidak apa-apa merasa lelah dan tidak melanjutkan, yang penting adalah ketika memutuskan untuk melanjutkan, lakukanlah sampai selesai.

Kami kembali berbaris satu per satu menaikkan kaki ke bangku beton sambil tangan menggeser di tanah. Lap ke-dua ini berlangsung lebih lama dari lap pertama, karena semua orang sudah sangat lelah dan banyak diam (dalam posisi pushup) untuk beristirahat. Untungnya hujan yang turun tidak sederas sebelumnya. Akhirnya lap ke-dua selesai. Saya bersama yang lain dalam posisi pushup menunggu orang terakhir sampai di ujung bangku dan menunggu aba-aba Thomas untuk berdiri.

Orang terakhir pun sampai. Thomas menoleh kepada kami, lalu berkata, “sorry guys, there’s still some of you who put down your knees. We know the rules. We have to do it one more time.” Badan saya langsung terasa lemas. Memang tadi masih ada yang menaruh lutut di tanah, tetapi gw kira Thomas akan menoleransinya. Lap kedua terakhir tadi benar-benar energi penghabisan buat kami. Tapi ternyata masih ada satu lap lagi untuk diselesaikan. Thomas memberi semangat pada kami dan menjelaskan kata-kata yang sangat membekas, “We have to go by our own rules. It’s not a punishment. It is for you to understand how important it is to do this [training] properly.”

Lap ketiga memakan waktu yang cukup lama. Semua orang bergerak lebih lambat dari biasanya, beristirahat lebih sering. Tapi, akhirnya semua selesai, kali ini tanpa seorangpun yang meletakkan lutut di tanah. Terbukti bahwa ‘godaan’ untuk meletakkan lutut di tanah hanya masalah mental semata. Tubuh kita semua sebenarnya mampu melakukan banyak hal yang tidak kita sadari.

Setelah orang terakhir tiba, Thomas meminta kami berdiri dan kami berlari kembali untuk berkumpul dengan kelompok pertama, sambil nyengir puas di bawah guyuran hujan.

QnA Bersama Thomas dan Stephane

Malam harinya, setelah tanah dan lumpur dibersihkan, perut yang kosong diisi, dan cerita-cerita seru dipertukarkan, diadakan sesi tanya jawab. Banyak sekali yang dibahas di sesi sharing tersebut. Mulai dari filosofi Parkour, prinsip anti-kompetisi dalam Parkour, hubungan Parkour dan Freerunning, mengenai flip, sampai berbagi cerita dan pengalaman perkembangan Parkour di UK. Banyak banget, mungkin nanti akan jadi satu post tersendiri :D
Di akhir sesi, kami memberi oleh-oleh pada TC dan SV.

Kenang-kenangan dari Parkour Jogja

3. Hari Terakhir, Free Jamming di Kampus Itenas.

Hari terakhir ini diisi dengan free jamming. Peserta dipersilakan mengeksplor sendiri Kampus Itenas. Hari ini tidak ada rundown karena beberapa komunitas dari beberapa kota sudah akan meninggalkan Bandung sejak siang. Satu kata untuk menggambarkan hari ketiga ini adalah: santai. Peserta berlalu lalang, hilir mudik mencoba berbagai spot latihan, dan sebagian lagi mengobrol santai di pinggir lapangan. Semuanya memanfaatkan waktu yang tinggal sedikit lagi untuk bercengkerama dengan kawan-kawan yang mungkin baru akan bertemu kembali satu tahun lagi.

Selesailah sudah Jamnas 2010. Maaf kalau tulisannya memanjang dan melebar di bagian tertentu. Maklum membekas :D
Terima kasih Parkour Bandung, saya bangga pernah kerja bikin ini bareng kalian.
Terima kasih Parkour Indonesia atas kedatangannya yang sangat-sangat memeriahkan. I love you full!
Sampa jumpa di Jamming Nasional 2011 Parkour Indonesia @ Jogja! :D

Photo courtesy: Muhamad Fadli a.k.a. Bullseye at Facebook.

http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs678.snc4/61843_1636747005666_1446461295_31672333_1524849_n.jpg

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.