Jamming Nasional Parkour Indonesia 2010 (Part 1)
Ini adalah tulisan pertama dari dua tulisan. Baca part 2 di sini.
Sekarang memang sudah 2011, dan menulis tentang kejadian di tahun 2010 rasanya udah basi banget. So last year, literally. Tetapi, yang satu ini mau nggak mau harus gw tulis. Because it is so important it sets the last year’s theme. Yak, gw mau menulis sedikit tentang Jamming Nasional Parkour Indonesia 2010.

—
Pertama-tama, matrikulasi ![]()
Kalau kalian masih bertanya, apa itu Parkour? Read thisWikipedia first.
http://id.wikipedia.org/wiki/Parkour
Nah, sekarang apa itu Jamming Nasional (Jamnas) Parkour Indonesia?
Parkour Indonesia adalah komunitas nasional yang menginduki komunitas-komunitas lokal di berbagai kota di seluruh Indonesia: Jakarta, Bandung, Bali, Balikpapan, Jogja, Surabaya, dll. Setahun sekali, kami berkumpul untuk mengobrol, berbagi, dan berlatih bersama. Jamnas pertama dilangsungkan tahun 2009 di Malang.
Tahun ini, 2010, ada yang spesial dari perhelatan Jamnas PKID. Pertama, Bandung dipercaya menjadi tuan rumah, yang berarti ekstra kerja keras bagi Parkour Bandung. Kedua, kami memutuskan mengundang dua instruktur dari Parkour Generations yang berbasis di London, Inggris, yang berarti dobel ekstra kerja keras.
Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa harus instruktur Inggris? Apa di Indonesia tidak ada orang yang bisa?

Melawan Miskonsepsi
Sampai saat ini, masih banyak miskonsepsi di masyarakat tentang Parkour. Pasti masih banyak dari kalian yang mengenal Parkour sebagai olahraga ekstrem, aksi pecandu adrenalin, olahraga show off, dll. Alas, none of that were and are true. –more on this on later posts– Parkour is a practical discipline, and in a way it’s similar to martial arts. As simple and modest as that.
Sayangnya, thanks to media, Parkour sudah terlanjur dikenal masyarakat sebagai sesuatu yang ekstrem. Begitu hebatnya miskonsepsi yang terjadi, dan cara terbaik untuk melawannya adalah dengan membekali praktisi-praktisi Parkour sendiri dengan pemahaman yang benar, sehingga bisa memberi penjelasan dengan baik kepada orang lain non-praktisi Parkour. Jangan sampai praktisi Parkour-nya sendiri tidak paham dan malah menyesatkan orang lain, betul?
Karena itulah, konsep Jamnas kali ini disusun dengan tagline “A Parkour Journey Closer To The Root”. Bagaimana di Jamnas kali ini kita sama-sama belajar untuk memahami kembali Parkour sebagaimana yang dibentuk oleh pencetusnya, David Belle. Dan kepada siapa lagi kita belajar tentang Parkour selain dari ‘akar’-nya, dari orang-orang yang pertama kali berlatih bersama David Belle? Orang-orang inilah yang telah mempelajari dan membesarkan disiplin ini selama belasan tahun dan tahu betul kemana arah dari disiplin yang bernama Parkour ini. Pada akhirnya, tercetuslah dua nama, Stephane Vigroux dan Thomas Couetdic untuk diminta kedatangannya.

Banyak kemudahan, banyak juga kesulitan dalam menjalankan Jamnas ini. Senangnya bukan kepalang ketika SV dan TC bersedia datang ke Indonesia tanpa dibayar –betul, kami hanya perlu menyediakan akomodasi! Parkour people are awesome!!– karena mereka sendiri amazed dan senang, ternyata di Indonesia pun Parkour berkembang. Tegangnya bukan kepalang ketika saya harus menjalani Kerja Praktek (KP) selama dua bulan di luar kota sementara izin penggunaan ITB sebagai tempat workshop belum selesai sampai sebulan sebelum acara.
Tapi akhirnya, Jamnas 2010 berlangsung meriah. Kalau menurut saya sih sukses
Tiga hari berlatih bersama, dua malam bercengkerama, seratus lima puluh partisipan dari tiga negara.
*bersambung ah. day-per-day review pada post selanjutnya
*
Apa tema tahun 2010-mu? Komen dong =]
Photo courtesy: Muhamad Fadli a.k.a. Bullseye at Facebook.


bang mau tanya,,
kalo mau latihannya dimana iya le parkour, ane tertarik banget minta banget ,,, tolong jawab iya ,,
di YM ane atau gak di blog ane ,, terima kasih bang …
NB :
YM : juno_mahat