kotakkayu - talking in Indonesian

Peperangan

Ada yang bilang, kita berperang setiap hari. Dan perang tersulit adalah melawan diri sendiri.

Saat kita di ujung detik untuk bertindak, mengambil resiko dan keputusan-keputusan. Ia datang lewat suara kecil di otak.

Waktu belajar:
Nonton bola dulu, biar belajarnya tenang dan gak kepikiran. Beli snack dulu aja, biar belajarnya sekalian lama. Toh masih ada besok. Belajar sekarang juga gak akan ngerti, malah pusing.

Waktu latihan dan olahraga:
Pas precision jump: kejauhan itu, jangan lompat.. emang sih fisik lo udah siap dan mampu, tapi kan masih ada kemungkinan gagal juga. Kalo dapet apesnya gimana?
Liat tuh, yang lain juga udah mau pindah tempat, ambil tas aja gih sana. Besok aja coba lagi.
Progres tiap orang emang beda kan? Kalo lo ragu2 berarti masih belum saatnya. Besok aja coba lagi.

Pas renang: ga usah start dari atas, lo kan belom jago, ntar masuk air ke hidung terus tenggelam.

Ketika akhirnya gw membalik badan dan berlalu, berarti dia menang. Sekali lagi gw dipecundangi oleh suaranya. Dan jika ini terus berulang, gak akan ada progres dalam apapun yang gw perbuat.

Sebenernya, nggak semua yang dia bilang itu menyesatkan. Toh insting rasa takut, khawatir, penuh perhitungan, itu terlahir sebagai alat perlindungan juga. Tapi lebih sering dia salah. Menakut-nakuti dengan berlebihan. Terlalu paranoid untuk melindungi tubuh yang ditumpanginya.

Jadi, apa yang harus gw lakukan? Diam, dengarkan dia baik-baik (siapa tahu yang dia bilang ternyata masuk akal!). Catat nasihat dan peringatannya, lalu simpan dengan label ‘telah dibaca’. Lalu suruh dia tutup mulut, dan kita kembali fokus ke apa yang harus dihadapi.

Dia memang jago membujuk. Gimana enggak? Dialah yang paling kenal kita, lebih dari saudara atau sahabat-sahabat terdekat. Dan dia akan muncul di tiap pertempuran kita, sambil menyilangkan tangan dan tersenyum hangat. Wajahnya familiar dan akrab. Lalu dia akan menghampiri dan berujar dengan pengertian, “jangan, coba yang berikutnya aja. Aku yang paling mengerti kemampuanmu.”

Tapi, kita juga mengenalnya sebaik ia mengenal kita. Jadi ketika dia mulai membujuk, kita tahu pendapatnya kadang benar, tapi sering salah. Jadi kita hanya tersenyum menatapnya, berpikir, lalu memutuskan sendiri.

—————————————————–
Diilhami oleh postingan2 ini:

Peperangan (soal rasa takut, sugesti, dll)
Translated by Edmund, original post by Parkour Generations.

http://www.parkourindonesia.web.id/forum/viewtopic.php?f=11&t=1750

Original Post:
War, by Dan Edwardes

http://www.parkourgenerations.com/blog/2009/08/war.php