Dulu inlander, sekarang alay
Dulu, jaman penjajahan Belanda, manusia Indonesia dibagi dua: pribumi dan non-pribumi.
Golongan pribumi, inlander, isinya orang asli Indonesia, plus keturunan Arab dan Tionghoa yang golongan sosial ekonominya rendah. Golongan non-pribumi sesuai namanya berisi tuan-tuan dan noni Belanda, negara Eropa lain, Amerika, Jepang, dan ditambah sedikit pribumi elit.
Karena kekuasaan mayoritas dimiliki golongan non-pribumi yang berjumlah minoritas, golongan pribumi menjadi golongan ‘kelas dua’. Mereka dipandang rendah, tidak berpendidikan, kaum primitif, barbar, kampungan, dan jelas dong, konsekuensi logisnya mendapat harus dapat perlakuan berbeda.
Tapi kaum pribumi, rakyat asli Indonesia, menentang habis-habisan. Penggolongan kelas sosial adalah bentuk feodalisme terang-terangan yang memandang manusia berbeda hanya dari pertimbangan kekayaan, suku bangsa, dan pendidikan. Pejuang-pejuang muncul dari penjuru Nusantara.
Sekarang, di jaman informasi, zaman Facebook, manusia Indonesia dibagi dua: alay dan non-alay.
Golongan alay berciri-ciri (ngutip dari blog orang), “kulit item, celana jins ketat, sepatu converse, rambut kemerahan bau matahari”. Pendidikannya rendah, terbukti ngeja sms dan wall post Facebook aja gak bisa pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya kutip lagi, alay juga “suka pakai baju kaos sok gaul padahal murahan”, berarti golongan ekonomi rendah. Terakhir, kutipan lagi, alay adalah (kutipan langsung) “orang yang dari lahir udah ditakdirkan menjadi orang yang kampungan, norak, dan bikin eneg..”.
Non-alay, sebaliknya. Kulit sehat, rambut sehat dan wangi, tanda gizi cukup lah. Ngeja sms pakai bahasa Indonesia sempurna, malah kadang bahasa Inggris atau Prancis. Tandanya bahwa tingkat pendidikannya dahsyat. Bajunya modis, selalu mengikuti perkembangan fashion. Bukti tingkat ekonomi menengah ke atas. Tidak seperti alay yang terjebak fashion celana jins ketat. Norak, kampungan, bikin eneg betul kan?
Sampai di sini sejarah berulang. Alay mulai bergerak ke posisi dimana mereka dipandang rendah, tidak berpendidikan, kaum primitif, barbar, kampungan, norak.
Terus apa lagi? Konsekuensi logisnya pembedaan hak? Pemisahan fasilitas publik antara alay dan non-alay? Ada sekolah khusus alay, ada sekolah khusus non-alay? Tawuran antara anak-anak alay versus non-alay? Lalu muncul pejuang-pejuang alay dari penjuru Nusantara, menuntut dihentikannya praktik neo feodalisme.
—
Lebay, tapi bukan mustahil
wakakaka lucu boi
temen situ alay ya..
ahaha… iya kali ya
Hmm… Menarik. Banyak orang yang (katanya) menentang diskriminasi, marginalisasi, subordinasi, dll (padahal saya juga bingung artinya apa :p ), ternyata (secara ga sadar) melakukan hal yang ditentangnya.
Keep posting!
Regards,
M