One ordinary day, turn out to be a big day.
Hari itu gue pulang dari kampus agak malem gara-gara kena sial dapet bagian ngambil koran GP ke Pagarsih.
Di perjalanan, masuk telepon dari si Babeh.. isinya kurang lebih gini:
‘Mi, malem ini ada pawai obor memperingati Bandung Lautan Api, jadi hindari lewat lapang maluku ya. Awas aja kalo mobil keserimpet. Bapak mau nyantei” aja di rumah nih, nonton tipi. Kalo berhasil selamet calling” ya. Caio!’
Em, mungkin gak persis gitu sih.
Eniwei, itu menyadarkan gue.
Hari ini Bandung Lautan Api (BLA)!
Wow, gue ga inget sama sekali.
Btw, dari tiga pelajaran IPS, gue paling suka sejarah. Sejarah Indonesia terutama, esp periode PDRI dkk. Tapi tentang BLA, gue masih burem.
Gue cuma bisa mencoba ‘merasakan’ BLA dari fakta” heroiknya aja, kaya ada gudang senjata yang kita serang dan meledak, ada pejuang muda yang gugur, dan ‘a thousand miles of fire’ yang terkenal itu.
Romantisme sejarah gue pun mulai keluar.
Gimana ya, rasanya ada di Bandung saat itu?
Atticus Finch dalam To Kill A Mockingbird bilang: untuk benar-benar memahami seseorang, kau harus hidup di atas sepatunya, memakan apa yang ia makan, dan menjalani hidup dengan caranya.
Gue jadi inget jaman” SMA, waktu gue masih rajin main airsoft.
Sekali waktu, gue berdua ama temen gue (sory dude, lupa nama) lagi terpojok dan meringkuk di belakang meja yang kita rebahin jadi shelter.
Di bawah hujan peluru BB, setengah becanda dia bisik ke gue: jir.. mi, kayak gini kali ya perasaan tentara waktu perang?
Gue cuma bisa terus menunduk. Ngedengerin bunyi peluru yang ga berhenti” mantul-mantul di meja kayu yang ngelindungin gue. Cuma sepuluh senti dari badan, and imagining those are real.. real bullets…
Atticus Finch dalam To Kill A Mockingbird emang pernah bilang: untuk benar-benar memahami seseorang, kau harus hidup di atas sepatunya, memakan apa yang ia makan, dan menjalani hidup dengan caranya.
I guess.. untuk gue.. adalah dengan meringkuk di belakang meja kayu itu.
Dengan melihat apa yang mungkin mereka lihat. Mendengar suara yang mungkin mereka dengar. Menggenggam senjata dengan tangan licin karena keringat, just like them.
Paling enggak, gue mungkin bisa membayangkan sebagian kecil dari apa yang mungkin mereka rasakan. Sebagian kecil nya, dan itu masih minus ledakan, lautan api dan lain-lain…
Karena kelupaan, gue akhirnya lewat juga ke lapang maluku (emang biasa lewat sana soalnya). Tapi sampe sana, ternyata masih sepi (ato udah sepi? gtau juga deh).
Waduh.. mana nih yang katanya mau memperingati? Hehe.
Selamat memperingati Hari Bandung Lautan Api..!