Lompat ke isi

As long as we want it

16 Januari 2012

You may have heard about people gifted with ‘photographic memory’. It’s an ability to recall everything you’d seen, as clearly and accurately as if you are actually seeing it in front of you. It’s like seeing mental photographs, or movie, from your own memories.

The first time I heard such gift, I was blown with awe and jealousy. I started imagining the possibilities. People with photographic memory, when traveling, they don’t have to take lots of picture to remember. They can pull it all from memories. Every scenery, every landscapes, buildings, all the expressions on the face of their friends, every moments, all the experiences. And when they watch a good movie, the only need to watch it ONCE. Then replay whenever they want. The same goes for music concerts, plays, sport matches..

And then I realized that when it comes to studying, they just have to read the textbooks once, look briefly at every pages, and recall them one-by-one during exams. I realized with jealousy that they can study everything.

That they can be anything at all, as long as they want it.

But then I thought about it, and realized that at least for that one last point, it actually applies to all of us as well. That is, as long as we want it.

Gila ya

16 Desember 2011

Gila ya.

Gimana semua hal-hal yang terjadi itu ternyata ada tujuannya sendiri-sendiri. Cuma kita aja yang kadang belum tau. Kadang pertama kali, kita cuma ngeliat kulit luarnya aja. Terus kesel-kesel sendiri, karena yang apa kita liat itu nggak sebagus atau semudah yang awalnya kita harapkan. Tapi pada akhirnya kita malah malu, heran sendiri ketika akhirnya kita diperlihatkan tujuan mereka satu per satu. Yang ternyata adalah suatu konspirasi besar alam semesta dengan akhir baik yang tak terduga-duga. Gilak.

yang di depan dan di belakang

1 Oktober 2011

hari kamis, dua hari yang lalu, saya selesai menjalani sidang tugas akhir. belum resmi jadi sarjana memang, masih ada revisi dan beberapa hal-hal administratif lain sebelum akhirnya saya akan diwisuda.

pada saat building up momentum menuju waktu sidang, pikiran saya yang tegang berkali-kali dilintasi pemikiran yang sama, yaitu betapa cepatnya waktu berlalu dari pertama masuk itb. obrolan dengan teman-teman sesama peserta sidang juga memberikan jawaban yang sama. hampir semuanya merasa waktu berjalan terlalu cepat. gak kerasa euy udah sidang aja ya, kata mereka. maka saya coba mengingat-ingat. dan ternyata kalau dirunut dan diingat betul-betul, eh tidak secepat yang kita bilang ya.

saya ingat saat kelulusan sma, rasanya berat, ingin terus melanjutkan ke kelas empat saja bersama seluruh teman seangkatan. ingat pertama kali baca pengumuman penerimaan SPMB lewat internet. waktu itu, saya yang kena euforia menelepon bapak saya yang sedang di luar kota. ternyata bapak udah punya nomor peserta saya dan udah mengecek pengumuman sendiri. gak tahan deg-degan kayaknya, haha. saya ingat antri daftar ulang di sabuga, lalu ambil ksm dan pertama kali baca nim sendiri. saya ingat waktu sidang terbuka di sabuga, yang disambung PMB sampai sore. saya ingat masa-masa ospek jurusan, masa bina cinta (mbc) hme, dengan tugas berjibun yang bikin saya dikira ibu jadi anak dugem karena pulang malam terus. yakali bu. minum sekoteng jahe aja saya ga abis. saya ingat waktu agak kesal karena di hari ulang tahun malah harus seharian di kampus ngerjain tugas mbc.

saya ingat pertama kenal teman2 sekelas kalkulus waktu TPB, teman2 labtek tetangga, teman2 sahabat telekomunikasi. saya ingat diajak mamed pertama kali ikut latian parkour, yang bikin ingat diklat keamanan dan ingat pelantikan. saya inget pers mahasiswa. saya ingat milih jurusan telekomunikasi, ingat ambil kuliah kesehatan lingkungan dan pilih2 kelas supaya bareng mahasiswi TL, tetapi gagal. saya ingat pilih2 kelas kuliah agama bareng temen2 dan nyari kelas yang banyak anak TI, TL, atau planologinya. haha. saya ingat pengmas hme, saya ingat diklat palapa, dan saya ingat jamming nasional parkour indonesia.

ternyata saya ingat banyak hal. ternyata masa empat tahun ini sebenarnya panjang sekali, dan isinya sangat bermacam-macam. saya ingat hal-hal menyenangkan, hal-hal memalukan, yang bikin kesal, dan bikin senang, yang bikin kecewa, dan yang bikin bangga. dan saya paham, empat tahun ini sudah membentuk saya dalam banyak hal. empat tahun yang luar biasa, yang lebih intens, lebih full action dibandingkan tujuh belas tahun lain dalam hidup saya. sekarang empat tahun itu sudah selesai. masa-masa trial and error, kata dosen saya, sudah selesai. sekarang saatnya memasuki dunia nyata, di mana untuk setiap perbuatan ada konsekuensi yang lebih mbois dan menyeramkan. saya ingin bilang dengan mantap ‘saya siap!’, tapi nyatanya empat tahun lalu pun saya merasa tidak. dan hari ini saya masih baik-baik saja. jadi kayaknya saya biarkan saja perasaan saya apa adanya, lalu saya bilang saja, ‘real world, be nice to me yah!’

fahmi rahmadani, (calon) S.T.

Tentang Hukuman Mati

4 Mei 2011

Judulnya serem ya? Ahaha, maap2.

Barusan, di MetroTV, ada liputan wawancara dengan sutradara film dokumenter “Prison and Paradise”. Dari yang gw tangkap, film ini menceritakan tentang pelaku bom Bali beserta keluarganya, dari sudut pandang humanis.

Gw tidak akan bercerita tentang film itu, karena gw juga belum pernah nonton. Yang ingin gw ceritakan adalah satu bagian dalam wawancara tersebut yang menampilkan potongan-potongan adegan film tersebut. Dalam satu scene, tertampil foto hitam putih pelaku bom Bali di balik jeruji dengan caption “Imam Samudera, Amrozi, dan Ali Ghufron dieksekusi pada dini hari 9 November 2008 di LP Nusa Kambangan. Amrozi dan Ali Ghufron dimakamkan di Lamongan, Jawa Timur. Imam Samudera dimakamkan di Serang, Banten”.

Gw terhenyak. Entah kenapa caption itu terasa lebih real daripada berita-berita yang gw baca di koran. Dan gw jadi membayangkan apa rasanya ya tahu akan dihukum mati. Apa rasanya tiap pagi bangun sambil sadar hidup kita sedang dihitung mundur. Dan keluarganya, apa rasanya bangun tiap pagi dan menghitung mundur sampai tanggal eksekusi ayah, suami, atau anak kita, di depan regu tembak?

Gw percaya adanya afterlife, tapi bukankah kehidupan di dunia, se-fana apapun, tetap berharga ya? Iya, mereka memang melakukan pemboman yang menelan banyak korban. Gw mengutuk itu. Tapi apa berarti kehidupan mereka lantas harus diakhiri? Apa mereka tidak dapat lagi memulai hidup di masyarakat? Apa sama sekali tidak ada lagi manfaat hidupnya mereka bagi umat manusia? Dan kalau memang iya, apa kita benar-benar berhak mencabut hak hidup yang diberikan Tuhan pada mereka? Who are us to judge?

Saat ini yang gw tahu hukuman mati masih diberlakukan pada kasus pembunuhan dan peredaran narkoba. Dan gw sempat mendengar -dan mendukung- usulan-usulano untuk memberlakukan hukuman mati bagi koruptor. Oke, pembunuh mungkin berbahaya, pengedar narkoba mungkin merusak bangsa, dan koruptor mungkin jenis manusia terburuk yang pernah ada. Again, who are us to judge? Manusia, sebesar apapun kekuasaannya, sesuci apapun akhlaknya, sebanyak apapun jumlahnya, tidak berhak memutuskan nyawa seseorang. Pembunuhan tetaplah pembunuhan, baik atas nama agama, negara, hukum, atau keadilan.

Sarah Kay at TED 2011

18 April 2011

A video of Sarah Kay performing at TED 2011. She performed two poem, ‘B’ and ‘Hiroshima’, starting with ‘If I should have a daughter, instead of Mom, she’s gonna call me point B….’ . Penasaran? Tonton aja. If this doesn’t blow your mind, then you have absolutely no emotion :)

Tugas KI: Email

10 April 2011

Tulisan ini adalah jawaban dari tugas kuliah Keamanan Sistem Informasi dengan dosen Pak Budi Rahardjo.

Di kuliah tentang keamanan aplikasi, Pak Budi menjelaskan tentang keamanan email, dan ujung-ujungnya memberi tugas berikut:

Anda diminta untuk melakukan dua hal:

  1. Kirimkan dua (2) attachment kepada diri Anda sendiri, kemudian lihat “raw file” dari berkas email tersebut. Tunjukkan bagaimana attachment diproses dalam email.
  2. Anda diminta untuk menyadap email dengan menggunakan tcpdump, wireshark, atau mailsnarf. (Pilih salah satu saja.) Tunjukkan bagaimana mail yang disadap itu.

Nah lho, disuruh nyadap :D

Baiklaah.

Untuk tugas pertama, saya menggunakan mail client Gmail.com, dan mengirimkan email berisi dua attachment file berikut:
- data asisten pti.xls
- superuser.apk

Gmail memiliki fitur ‘show original’ di mana kita dapat melihat raw file dari email yang kita terima. Dengan fitur tersebut, saya dapat melihat raw text email saya dan menemukan blok berikut:


Bagian yang diberi kotak merah adalah informasi yang menunjukkan keberadaan attachment dan identitasnya, sedangkan bagian yang berkotak biru adalah isi dari attachment tersebut.

Dari identitas attachment, dapat kita lihat bahwa encoding yang digunakan adalah base64. Dari info tersebut, saya mencoba untuk melakukan decoding dengan base64 decoder pada situs ini. Ternyata benar, plain text dari file txt dapat diperoleh:

Untuk tugas kedua, saya menggunakan tiga macam akun email, (1) akun Gmail berbasis web, (2) akun students.itb.ac.id berbasis web, dan (3) akun Gmail yang diakses dengan Thunderbird. Sniffer yang saya gunakan adalah Wireshark pada Ubuntu OS.

Pada percobaan pertama saya melakukan filtering protokol ‘smtp’ pada pengiriman antara ketiga akun tersebut. Ternyata hasilnya tidak ada satupun paket smtp yang ter-capture. Dari hasil googling dan bertanya pada beberapa teman, saya mendapat beberapa jawaban. Pengiriman melalui webmail tidak menggunakan paket smtp melainkan tcp port 80 berupa http/xml, hingga mail server gmail. Server gmail-lah yang akan mengirimkan paket smtp ke mail server tujuan. Untuk pengiriman melalui Thunderbird, saya mengecek port yang digunakan untuk outgoing server dan menemukan ternyata digunakan tcp port 993. Tetapi, hasil filtering untuk port tersebut pun tidak memberikan hasil.

Akhirnya, saya mendapat solusi dari seorang teman bernama Salik, bahwa paket http/xml yang berisi email dapat difilter menggunakan query ‘frame contains “string”‘.

Pada pengiriman dari akun webmail students ke gmail, untuk filter ‘frame contains gmail’ ter-capture paket berikut:

Pada pengiriman dari akun Gmail via Thunderbird ke akun students, dengan filter yang sama ter-capture paket berikut:

Nah, ternyata isi email terlihat jelas tanpa enkripsi apapun.

Moral of the story? Gunakan web-based mail client jika ingin mengirimkan email yang bersifat rahasia, paling tidak akan sedikit lebih aman. Tapi kalau isi emailnya tidak rahasia atau tidak penting, ya bebas saja :D

#10BukuWajibBaca

5 April 2011
tags: ,

Post ini idenya dari hashtag #10BukuWajibBaca di Twitter. Asalnya mau gw tulis di twitter tapi karena jadinya kok kepanjangan, balik lagi deh blogging :]

1. Harry Potter 1-7

Gak ada pesaingnya ini, udah paling the best. HP 1 adalah novel beneran pertama yg gw punya, hadiah dari ortu pas gw disunat :D . Selanjutnya praktis masa muda gw (SD SMP SMA kuliah) dilewatkan dgn membaca dan menonton jilid 2-7 nya. Emang jamannya HP banget lah.

2. Cell

Ini buku Stephen King pertama yang gw baca sampai tamat. Ceritanya tentang gelombang misterius yang menyebar melalui handphone yang mengubah manusia menjadi zombie-like creature. Walaupun ide tentang zombie2 ini jadul tapi ini seru, sungguh! Penjelasannya cukup masuk di akal, actionnya seru.

3. Buku-buku Dan Brown
Ada lima, Da Vinci Code, Angels and Demons, Deception Point, Digital Fortress, dan The Lost Symbol. Kalau gw bilang semua buku Dan Brown itu identik baik gaya bahasa maupun garis besar plotnya. Temanya aja yang beda. Tapi tetep aja semuanya gw suka karena ceritanya mengalir banget dan bahasanya renyah, gampang dicerna. Personal favourite: Digital Fortress, karena riddle-nya paling menawan :)

4. Neverwhere, by Neil Gaiman
Ini buku pertama Gaiman yang gw beli dan baca, karena judul yang lain belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan waktu itu bahasa Inggris gw masih ancur -_- . Entah kenapa ya kayaknya buku-buku “pertama” selalu yang paling berkesan.

Ceritanya tentang Richard Mayhew, pemuda yang tersesat ke London Below, dunia di mana legenda London hidup dan nyata, mulai dari Greyfriars, para Count, sampai Angel of Islington. The best. Gara-gara ini gw mulai baca karya-karya Gaiman lainnya seperti…

5. Stardust, by Neil Gaiman.
Tentang pemuda Desa Tembok yang berkelana ke dunia di balik tembok untuk membawa pulang bintang jatuh. Terdengar kekanakan? Jangan salah, sesuai tagline-nya, ini adalah kisah dongeng untuk pembaca dewasa dengan jalan cerita mendalam, gelap, dan pesan berlapis. Dibungkus dengan humor segar ala Gaiman yang jenius. Bahasa penceritaan dalam novel menurut gw sangat-sangat indah, penuh metafora dan permainan kata-kata. Mantap banget lah, another superbly done fine piece of work. Karya lain Gaiman yang juga gw suka adalah American Gods dan The Graveyard Book.

7. Into The Wild by Jon Krakauer.
Ini non-fiksi, semacam semi-biografi gitu. Kisahnya mengikuti perjalanan Chris McCandless, pemuda dari keluarga menengah ke atas Amerika yang menghilang sehari setelah hari wisudanya. Chris menyumbangkan seluruh isi tabungannya, meninggalkan mobilnya di gurun, membakar sisa uang tunai yang dimilikinya, lalu bertualang melintasi Amerika, menaiki kano melintas perbatasan Meksiko, hingga survival di Alaska. Into The Wild. Tiga tahun setelah menghilang, jasadnya ditemukan di sebuah bis yang terlantar di Alaska. Jon Krakauer mencoba memberi pemahaman pada kisah ini dengan risetnya yang mendalam dan penulisannya yang powerful. Kita akan diajak memahami perasaan Chris dan alasan-alasannya. Gw rekomendasikan untuk semua orang yang pernah merasa terpesoa oleh alam liar.

8. Keliling Eropa 6 Bulan dengan 1000 Dolar, by Marina K. Silvia, gadis manis berkerudung yang sendirian backpacking keliling Eropa.
Non-fiksi pertama dalam daftar ini, buku ini gw rekomendasikan pada siapa saja yang berniat ataupun berminat traveling keliling Eropa. Buku ini berisi ‘panduan’ menyiapkan keberangkatan yang super lengkap, sekaligus juga berisi kontemplasi-kontemplasi penulis selama perjalanannya. Tentang perbedaan, toleransi, dan kekuatan dialog. Tulisan-tulisan yang ada sangat menyentuh, jenaka di beberapa bagian, dan secara keseluruhan sukses memompa semangat ber-traveling dan berdialog. Sehingga kalau dipikir-pikir lagi, kayaknya gw rekomendasikan buku ini untuk kalian SEMUA =].

9. Outliers, by Malcolm Gladwell.
BEST book about success and things that’s circling around it. Kalau kata peribahasa, pemahaman berbuah kemenangan. Buat gw, pemahaman yang didapat dari baca buku ini bisa dibilang dekat dengan pencerahan. Great book indeed, memberi semangat (dan penjelasan logis yang masuk di akal) bahwa kamu bisa menjadi APAPUN yang kamu mau, as long as you’re willing to pay your dues ;)

10. Supernova Petir, by Dee Lestari.
Gw suka ini karena gaya humor Dee di buku ini yang JENIUS :)
Settingnya yang di Bandung dengan pensuasanaan novel yang ‘Bandung banget’ membuat gw bisa relate dan merasa dekat dengan dunianya. Buat yang pernah baca Supernova KPBJ, dan merasa agak ‘lelah’ dengan beratnya fisika kuantum, bacalah Petir untuk menikmati selera humor Dee Lestari yang luarbiasa.

Itu #10BukuWajibBaca versi saya. Apa versi kamu?

Jamming Nasional Parkour Indonesia 2010 (Part 2)

8 Maret 2011

Ini adalah tulisan kedua dari dua tulisan. Baca part 1 di sini.

Tulisan ini berisi day per day Jamnas.
Tulisannya lumayan panjang dan semuanya dari sudut pandang saya, jadi you’ve been warned ;)

tl;dr: Jamnas 2010 was awesome, Mbois!!

1. Hari Pertama, Methode Naturalle di Jalur Daki Jayagiri.

Pada saat pendakian, peserta dibagi menjadi kelompok kecil berisi sepuluh orang. Perjalanan melalui jalur daki diselingi oleh challenges kecil seperti quadrupedie movement, balance, dan carry the man. Selesai melakukan challenges, semua peserta sudah belepotan lumpur sampai siku, tak terkecuali Thomas Couetdic yang begitu gembira menemukan hutan yang tidak dingin seperti di Inggris :)


Di ujung jalur daki terletak highlight pertama yaitu jembatan pipa air. Challenge di spot ini adalah melakukan shimmy (bergantung pada tangan dan melakukan gerakan menggeser) sampai seberang, dan diawasi oleh Stephane Vigroux sendiri. Tantangan dari SV adalah, ‘anggap bagian bawah jembatan pipa sebagai jurang. Dilarang melepas pegangan tangan dan menjatuhkan diri, karena artinya kalian ‘mati’. Kalau tidak kuat, maka memanjatlah’. SV mengajari kami untuk mengukur kemampuan diri sendiri. Selalu sisakan cukup tenaga untuk memanjat ke atas jembatan. Bayangkan diri kalian di kondisi darurat yang sebenarnya. Tepi jembatan yang tajam ditambah hujan yang mulai turun menambah kesulitan tantangan ini.

Selepas jembatan, peserta melanjutkan perjalanan berbekal tangan yang kini penuh bilur, letih, dan lecet, tapi wajah puas dan gembira. Keluar dari hutan, peserta tiba di awal jalur running downhill. Seharusnya, semua peserta akan mencoba berlari selama 10 menit nonstop menuruni bukit mengikuti jalur sepeda downhill yang berliku-liku. Sayangnya, beberapa kelompok tiba setelah hari gelap sehingga tidak semua mencobanya.

Perjalanan turun ke tempat truk menunggu dilalui di bawah hujan yang kini turun dengan deras. Ajaibnya, semua berjalan dengan bersemangat sambil mengobrol, tanpa ada yang mengeluh. Dasar anak Parkour, hujan-hujanan malah dianggap sebagai sarana menempa daya tahan tubuh. Beberapa orang bahkan menggeleng-geleng sambil tertawa, “Ada ya, orang yang disuruh merangkak-rangkak di lumpur, jalan kaki hujan-hujanan, bukannya kesel malah ketawa-ketawa?” :)

Setelah mandi, sesi malam hari diisi dengan sharing dari masing-masing perwakilan komunitas Parkour setiap kota. Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Pasuruan, Balikpapan, Bali, Lombok, Sukabumi, dan kota-kota lain yang terlalu banyak untuk disebutkan. Masing-masing bercerita tentang perkembangan Parkour di kotanya, ditimpali saran-saran, dorongan semangat, dan lawakan segar dari teman-teman di kota lain. Semua peserta pergi tidur dengan perut kenyang, badan bersih, dan senyum lebar.

2. Hari Kedua, Workshop di Kampus ITB.

Seperti hari pertama, peserta akan dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Masing-masing akan menuju spot berbeda, dengan enam instruktur berbeda, termasuk Stephane dan Thomas. Sebelum workshop dimulai, seperti biasa SV dan TC memimpin pemanasan ‘ringan’ yang ternyata cukup menguras keringat. Sebenarnya sebagian besar hanya kombinasi squat dan quadrupedie movement, tapi SV dan TC menekankan repetisi dan eksekusi setiap gerakan dengan benar. ‘Akan beda,’ SV menjelaskan, ‘melakukan gerakan-gerakan ini dengan banyak tapi asal-asalan, dibanding melakukannya sedikit tapi dengan sempurna. Selalu lakukan apapun dengan sempurna’.

Peserta pun dibagi ke dalam enam kelompok. Setengah hari dihabiskan dengan masing-masing instruktur, berkeliling dan mencoba berbagai spot latihan di ITB.

Siang hari, setelah makan siang, mendadak turunlah hujan. Rencana awal di mana peserta akan dirotasi untuk mencoba tempat lain di ITB diurungkan. Peserta berteduh di GSG sambil menonton pertandingan hockey yang kebetulan sedang berlangsung. Sebagian mulai tidur-tiduran dan mengobrol. Sementara itu, beberapa panitia mengobrol dan merundingkan kemungkinan-kemungkinan.

Pukul setengah tiga, hujan masih turun walau tak lagi lebat. SV dan TC memberi usulan menarik, ‘Parkour Jogging’ yang sifatnya optional. Segera, sebagian peserta yang memilih ikut berlari di bawah hujan, terbagi ke dalam dua regu masing-masing dipimpin SV dan TC. Mereka menentukan jalur yang akan dilalui dan peserta mengikutinya dengan cara mereka masing-masing.

Parkour Jogging ternyata seru sekali! Sama seperti kemarin, hujan hari ini benar-benar menjadi blessing in disguise. Thomas, yang memimpin kelompok saya, menunjukkan beberapa prinsip dan pola pikirnya dalam berlatih Parkour. Salah satu yang paling membekas dalam ingatan saya adalah prinsipnya tentang melakukan segala sesuatu dengan benar, disiplin, dan sepenuh hati. Do or not do, there’s no try.

It’s not a punishment

Ceritanya begini. Salah satu latihan fisik yang paling sering dilakukan di Parkour adalah shimmy (gerakan menggeser). Variasinya banyak. Yang hari itu Thomas pimpin adalah shimmy dengan telapak tangan di tanah dan telapak kaki di bangku beton setinggi kira-kira dua puluh senti. Kami bergerak menggeser dalam posisi seperti pushup itu mengelilingi tempat duduk beton. Rule yang diberikan: mulai bersama-sama, selesai bersama-sama. Dari awal sampai semua selesai lutut tidak boleh mengenai tanah. Jika salah satu dari kami menaruh lututnya ke tanah, semua orang harus mengulang kembali dari awal. Istirahat boleh dilakukan, asal posisi tetap dijaga dan lutut tidak mengenai tanah.

Kami berbaris melakukan gerakan shimmy di bawah hujan. Setiap beberapa meter kami bergantian beristirahat. Meski sudah diberi peraturan, beberapa orang sempat menaruh lututnya di bawah. Setelah semua orang dengan tangan pegal mencapai ujung bangku beton, Thomas berkata (sambil masih dalam posisi pushup), “Tadi kita coba A to B, sekarang mari kita coba B to A. Tadi masih ada beberapa orang yang turun, kali ini saya ingin tidak ada yang melakukannya”. Saat itu seseorang yang sudah benar-benar kelelahan meminta izin untuk beristirahat, dan Thomas mempersilakan. Tidak apa-apa merasa lelah dan tidak melanjutkan, yang penting adalah ketika memutuskan untuk melanjutkan, lakukanlah sampai selesai.

Kami kembali berbaris satu per satu menaikkan kaki ke bangku beton sambil tangan menggeser di tanah. Lap ke-dua ini berlangsung lebih lama dari lap pertama, karena semua orang sudah sangat lelah dan banyak diam (dalam posisi pushup) untuk beristirahat. Untungnya hujan yang turun tidak sederas sebelumnya. Akhirnya lap ke-dua selesai. Saya bersama yang lain dalam posisi pushup menunggu orang terakhir sampai di ujung bangku dan menunggu aba-aba Thomas untuk berdiri.

Orang terakhir pun sampai. Thomas menoleh kepada kami, lalu berkata, “sorry guys, there’s still some of you who put down your knees. We know the rules. We have to do it one more time.” Badan saya langsung terasa lemas. Memang tadi masih ada yang menaruh lutut di tanah, tetapi gw kira Thomas akan menoleransinya. Lap kedua terakhir tadi benar-benar energi penghabisan buat kami. Tapi ternyata masih ada satu lap lagi untuk diselesaikan. Thomas memberi semangat pada kami dan menjelaskan kata-kata yang sangat membekas, “We have to go by our own rules. It’s not a punishment. It is for you to understand how important it is to do this [training] properly.”

Lap ketiga memakan waktu yang cukup lama. Semua orang bergerak lebih lambat dari biasanya, beristirahat lebih sering. Tapi, akhirnya semua selesai, kali ini tanpa seorangpun yang meletakkan lutut di tanah. Terbukti bahwa ‘godaan’ untuk meletakkan lutut di tanah hanya masalah mental semata. Tubuh kita semua sebenarnya mampu melakukan banyak hal yang tidak kita sadari.

Setelah orang terakhir tiba, Thomas meminta kami berdiri dan kami berlari kembali untuk berkumpul dengan kelompok pertama, sambil nyengir puas di bawah guyuran hujan.

QnA Bersama Thomas dan Stephane

Malam harinya, setelah tanah dan lumpur dibersihkan, perut yang kosong diisi, dan cerita-cerita seru dipertukarkan, diadakan sesi tanya jawab. Banyak sekali yang dibahas di sesi sharing tersebut. Mulai dari filosofi Parkour, prinsip anti-kompetisi dalam Parkour, hubungan Parkour dan Freerunning, mengenai flip, sampai berbagi cerita dan pengalaman perkembangan Parkour di UK. Banyak banget, mungkin nanti akan jadi satu post tersendiri :D
Di akhir sesi, kami memberi oleh-oleh pada TC dan SV.

Kenang-kenangan dari Parkour Jogja

3. Hari Terakhir, Free Jamming di Kampus Itenas.

Hari terakhir ini diisi dengan free jamming. Peserta dipersilakan mengeksplor sendiri Kampus Itenas. Hari ini tidak ada rundown karena beberapa komunitas dari beberapa kota sudah akan meninggalkan Bandung sejak siang. Satu kata untuk menggambarkan hari ketiga ini adalah: santai. Peserta berlalu lalang, hilir mudik mencoba berbagai spot latihan, dan sebagian lagi mengobrol santai di pinggir lapangan. Semuanya memanfaatkan waktu yang tinggal sedikit lagi untuk bercengkerama dengan kawan-kawan yang mungkin baru akan bertemu kembali satu tahun lagi.

Selesailah sudah Jamnas 2010. Maaf kalau tulisannya memanjang dan melebar di bagian tertentu. Maklum membekas :D
Terima kasih Parkour Bandung, saya bangga pernah kerja bikin ini bareng kalian.
Terima kasih Parkour Indonesia atas kedatangannya yang sangat-sangat memeriahkan. I love you full!
Sampa jumpa di Jamming Nasional 2011 Parkour Indonesia @ Jogja! :D

Photo courtesy: Muhamad Fadli a.k.a. Bullseye at Facebook.

http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs678.snc4/61843_1636747005666_1446461295_31672333_1524849_n.jpg

Kenapa Harus Gue? Kenapa Bukan Elu?

5 Maret 2011

Mesjid kecil tempat gw biasa Jumatan lagi direnovasi. Seluruh lantai satunya dihancurin, sehingga bagian mesjid yang bisa dipakai hanya lantai duanya saja. Luas efektif mesjid berkurang jadi hampir sepertiganya, sementara jemaah yang datang tetap. Alhasil, banyak jemaah yang tidak kebagian tempat duduk dan terpaksa diam di tangga sambil mendengarkan khutbah.

Sehabis shalat selesai, khatib berdiri dan memberikan nasihat singkat. Di akhir nasihat, diselipkan himbauan bahwa “karena untuk sementara kapasitas mesjid menjadi berkurang, bagi jemaah yang dapat shalat Jumat di tempat lain dipersilakan”.

Minggu depannya, gw shalat Jumat di tempat yang sama. Dapet tempat, karena gw datang agak awal. Mengingat minggu lalu khatib sudah memberi himbauan, gw mengira nggak akan terjadi kekurangan tempat seperti minggu lalu. Ternyata? Jumlah yang datang sama saja seperti minggu lalu. Sebagian jemaah mendengarkan khutbah di tangga dan baru bergabung ke shaf ketika imam berdiri untuk shalat. Saat itu dalam pikiran gw, “Yee.. udah dikasi tau juga masih aja dateng ke sini. Ya salah sendiri”. Itu waktu itu. Sekarang, gw bertanya-tanya lagi, adil dan valid-kah penilaian gw saat itu?

Pikir gw, kenapa ya kok udah dikasih himbauan masih aja pada datang ke sini? Mesjid lain yang terdekat memang sedikit agak jauh, tapi bukannya gampang ya, tinggal pindah tempat shalat aja? Itu pikir gw dalam hati. Waktu itu gw lupa, bahwa walaupun udah dihimbau, toh gw juga masih shalat di situ. :D

Setelah sedikit googling dan baca, gw nemu teori bernama “Tragedy of The Common” yang menjelaskan itu semua. Fenomena ketika dari sekumpulan orang dibutuhkan volunteer untuk mengambil tindakan alternatif, dan semua orang berpikir “kenapa harus gw? kenapa gak yang lain aja?”. Semua orang berpikir dan bertindak serupa, dan akhirnya semuanya kena ruginya.

Semua orang (mungkin) berpikiran “Udahlah pasti yang lain pindah mesjid, gw mah ga usah”. Nyatanya, semua orang berpikiran yang sama dan sedikit yang mau ‘mengalah’ untuk pindah ke mesjid lain. Kenapa pakai tanda kutip, karena ironisnya justru hanya mereka yang ‘mengalah’ itu yang menang :)

Contoh paling populer dari Tragedy of the Common adalah jam macet. Berapa banyak di antara kita, yang pas kejebak jam macet nengok kanan-kiri dan diam-diam memaki mobil lain yang sama-sama sedang kejepit? I know I did. Dalam pikiran gw, “Woy, ngapain sih pada berangkat jam segini juga? Kenapa gak lima belas menit sebelum gw? Atau lima belas menit setelah gw lewat??” Again, because we all think and act the same, thus occurs Tragedy of the Common.

Jadi, solusinya bagaimana? Itu yang paling penting kan. Sebenarnya maafkan karena gw juga nggak punya solusi pasti, kecuali ya berpikir dan bertindaklah berbeda. Try to differentiate ourselves from others, and others, please try to differentiate yourselves too. Halah, jadi maksa. Ya sudahlah.

Jadi, pernahkah kalian mengalami Tragedy of The Common juga? Komentarnya dong =]

Jamming Nasional Parkour Indonesia 2010 (Part 1)

24 Februari 2011

Ini adalah tulisan pertama dari dua tulisan. Baca part 2 di sini.

Sekarang memang sudah 2011, dan menulis tentang kejadian di tahun 2010 rasanya udah basi banget. So last year, literally. Tetapi, yang satu ini mau nggak mau harus gw tulis. Because it is so important it sets the last year’s theme. Yak, gw mau menulis sedikit tentang Jamming Nasional Parkour Indonesia 2010.


Pertama-tama, matrikulasi :)
Kalau kalian masih bertanya, apa itu Parkour? Read thisWikipedia first.

http://id.wikipedia.org/wiki/Parkour

Nah, sekarang apa itu Jamming Nasional (Jamnas) Parkour Indonesia?

Parkour Indonesia adalah komunitas nasional yang menginduki komunitas-komunitas lokal di berbagai kota di seluruh Indonesia: Jakarta, Bandung, Bali, Balikpapan, Jogja, Surabaya, dll. Setahun sekali, kami berkumpul untuk mengobrol, berbagi, dan berlatih bersama. Jamnas pertama dilangsungkan tahun 2009 di Malang.

Tahun ini, 2010, ada yang spesial dari perhelatan Jamnas PKID. Pertama, Bandung dipercaya menjadi tuan rumah, yang berarti ekstra kerja keras bagi Parkour Bandung. Kedua, kami memutuskan mengundang dua instruktur dari Parkour Generations yang berbasis di London, Inggris, yang berarti dobel ekstra kerja keras. :)

Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa harus instruktur Inggris? Apa di Indonesia tidak ada orang yang bisa?

Melawan Miskonsepsi

Sampai saat ini, masih banyak miskonsepsi di masyarakat tentang Parkour. Pasti masih banyak dari kalian yang mengenal Parkour sebagai olahraga ekstrem, aksi pecandu adrenalin, olahraga show off, dll. Alas, none of that were and are true. –more on this on later posts– Parkour is a practical discipline, and in a way it’s similar to martial arts. As simple and modest as that.

Sayangnya, thanks to media, Parkour sudah terlanjur dikenal masyarakat sebagai sesuatu yang ekstrem. Begitu hebatnya miskonsepsi yang terjadi, dan cara terbaik untuk melawannya adalah dengan membekali praktisi-praktisi Parkour sendiri dengan pemahaman yang benar, sehingga bisa memberi penjelasan dengan baik kepada orang lain non-praktisi Parkour. Jangan sampai praktisi Parkour-nya sendiri tidak paham dan malah menyesatkan orang lain, betul?

Karena itulah, konsep Jamnas kali ini disusun dengan tagline “A Parkour Journey Closer To The Root”. Bagaimana di Jamnas kali ini kita sama-sama belajar untuk memahami kembali Parkour sebagaimana yang dibentuk oleh pencetusnya, David Belle. Dan kepada siapa lagi kita belajar tentang Parkour selain dari ‘akar’-nya, dari orang-orang yang pertama kali berlatih bersama David Belle? Orang-orang inilah yang telah mempelajari dan membesarkan disiplin ini selama belasan tahun dan tahu betul kemana arah dari disiplin yang bernama Parkour ini. Pada akhirnya, tercetuslah dua nama, Stephane Vigroux dan Thomas Couetdic untuk diminta kedatangannya.

Banyak kemudahan, banyak juga kesulitan dalam menjalankan Jamnas ini. Senangnya bukan kepalang ketika SV dan TC bersedia datang ke Indonesia tanpa dibayar –betul, kami hanya perlu menyediakan akomodasi! Parkour people are awesome!!– karena mereka sendiri amazed dan senang, ternyata di Indonesia pun Parkour berkembang. Tegangnya bukan kepalang ketika saya harus menjalani Kerja Praktek (KP) selama dua bulan di luar kota sementara izin penggunaan ITB sebagai tempat workshop belum selesai sampai sebulan sebelum acara.

Tapi akhirnya, Jamnas 2010 berlangsung meriah. Kalau menurut saya sih sukses :D Tiga hari berlatih bersama, dua malam bercengkerama, seratus lima puluh partisipan dari tiga negara.

*bersambung ah. day-per-day review pada post selanjutnya :D *
Apa tema tahun 2010-mu? Komen dong =]

Photo courtesy: Muhamad Fadli a.k.a. Bullseye at Facebook.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.